Rabu, 08 Desember 2010

Rapat Persiapan UAS SMA Negeri 17 BEKASI
"Jangan terkotak-kotak, lupakan masa lalu, mari kita selesaikan semua persoalan dengan baik, kita sambut tahun baru ini dengan kebersamaan dan kekompakan untuk kemajuan SMA Negeri 17 Bekasi".
Bogor--Hari Senin kemarin (6/12) bertempat di Villa lestari daerah Ciapus kota hujan Bogor keluarga besar SMA Negeri 17 Kota Bekasi mengadakan rapat persiapan UAS (Ujian Akhir Semester)semester gasal tahun pembelajaran 2010--2011. hadir dalam kegiatan tersebut, para pejabat teras di SMA Negeri 17 Bekasi termasuk di dalamnya kepala sekolah, para Wakasek beserta staf dan dewan guru. pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu penuh dengan nuansa keakraban dan kekeluargaan sekaligus menunjukkan keberadaan dan eksistensi SMA negeri 17 Bekasi sebagai sekolah fillial yang masih menginduk di SMA Negeri 3 Bekasi.
Dalam sambutannya, kepala sekolah mengajak seluruh komponen yang ada di SMA Negeri 17 Bekasi untuk kompak dan saling bahu membahu agar dapat terwujud suasana sekolah yang kondusif sehingga benar-benar dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyrakat khususnya kepada para siswa."Jangan terkotak-kotak, lupakan masa lalu, mari kita selesaikan semua persoalan dengan baik, kita sambut tahun baru ini dengan kebersamaan dan kekompakan untuk kemajuan SMA Negeri 17 Bekasi". Ungkap Ibu Hj. R. Neni Nuraini, M.M. selaku kepala SMA 17 Bekasi. Dalam setiap pertemuan rapat kedinasan yang dilakukan, ungkapan tersebut selalau beliau ucapkan untuk memberikan semangat dan motivasi kepada guru dan karyawan agar menjaga tali silaturahmi keluarga besar SMA Negeri 17 Bekasi. hal ini pula sebagai penepis adanya anggapan kekurang harmonisan dan kesan negatif. "Ibarat piring dalam rak, sekali kita pakai pasti akan kotor. kemudian kita cuci piring itu bersama-sama, sudah barang tentu di antara piring itu akan terjadi benturan-benturan kecil" Imbuhnya.
Agenda kegiatan rapat pada hari pertama senin(6/12) diisi dengan pembahasan persiapan UAS dan sekaligus sedikit pembahasan yang bertaut dengan program kurikulum. dalam rapat yang hampir berlangsung selama tiga jam tersebut banyak masalah yang disorot terutama berhubungan dengan pelaksanaan semester yang akan dilaksanakan dan evaluasi kegiatan ujian tengah semester (UTS) yang dinilai masih banyak kekurangannya. Bahasan lain, berupa kedisplinan baik siswa maupun guru serta persiapan UNAS untuk siswa kelas XII, pembentukan panitia UAS yang terdiri dari Ketua, Skekretaris, Bendahara, Anggota dan Pembantu umum. Tata tertib pengawas dan peserta selama kegiatan juga sempat disinggung untuk keseragaman ketika pelaksanaan ujian berlangsung.
Sedangkan pada rapat hari kedua, Selasa(7/12) dimulai pukul 08.00. akan tetapi karena sesuatu hal molor menjadi pukul 09.00 WIB. rapat yang semula di setting hanya berlangsung satu jam saja, ternyata hampir berlangsung 2 jam. hal ini karena banyaknya permasalahan yang harus dibahas dan dicari jalan keluarnya bersama-sama. fokus rapat kali ini pada pembahasan permasalahan siswa, wali kelas dan BP. Masih sama dengan pertemuan sebelumnya(senin 6/12) seluruh pejabat dan dewan guru hadir termasuk seluruh wali kelas baik kelas X, XI maupun XII. "Rapat kali ini sudah baik karena memberikan kesempatan kepada wali kelas untuk klarifikasi permasalahan, namun sayangnya kesempatannya hanya dibatasi satu jam dan terkesan tergesa-gesa. sehingga tidak ada masukan dari guru atau pihak-pihak yang berkait di dalamnya. sehingga sangat disayangkan karena permasalahan siswa ialah pemrmasalahan bersama". Ucap salah seorang peserta.
Dalam surat tugas yang diberikan sekolah kepada peserta dalam hal ini dewan guru rapat kali ini hanya membahas persiapan UAS dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran dan tidak ada agenda yang lain. sehingga dalam waktu dua hari acaranya tidak terlalu padat seperti Raker (RAPAT KERJA) yang membutuhkan perhatian, curahan tenaga dan energi. cakupan bahasan rapat yang simple dan santai memang mengindikasikan bukan Raker seperti sekolah-sekolah yang lain.
untuk menghilangkan kebosanan selama kegiatan berlangsung sekaligus refreshing dalam mengahadapi pelaksanaan ujian semester, panitia memberikan keleluasaan untuk menikmati fasilitas villa yang ada. kolam renang dan karaoke beserta organ tunggal yang siap menghibur kala penat. tak lupa, untuk menghormati datangnya tahun baru hijriah diadakan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz Budi. acara rapat persiapan UAS kali ini dapat berlangsung lancar dan aman, diakhiri doa serta komitmen bersama sebagai keluarga besar SMA Negeri 17 Bekasi.
Selengkapnya...

Rabu, 01 Desember 2010

Kata Pengantar
Pembaca yang budiman,
Tiada kata yang mulia dilantunkan selain Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga kita semua senatiasa diberikan petunjuk ke jalan yang benar. amieen.
Sebuah petuah bijak mengatakan; "kalau kita mendengar akan lupa, kalau kita membaca akan ingat saja, dan kalau kita praktik maka akan paham". Sama halnya dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah, tidak hanya mempelajari teori kebahasaan dan kesastraan semata, namun implementasi dari teori itu jauh lebih penting, salah satu bentuknya ialah pembuatan majalah. Hal ini membuktikan pula bahwa Pembelajaran Bahasa dan Sastra itu mempunyai cakupan yang luas dan sangat bermanfaat bagi siswa.
pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankanlah kami hadir dalam edisi "Latihan". mencoba hal baru untuk sesuatu yang baru. mengubah tak biasa menjadi terbiasa. itulah semangat yang ada dalam isi majalah ini. demikian pula, ucapan terima kasih tak terhingga kami samapaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan majalah ini.
Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan penyusunan majalah selanjutnya.
Selamat membaca!

Salam,
Redaksi
Selengkapnya...

Rabu, 24 November 2010

Bukan surat cinta

Bekasi, 25 November 2010
masih teruntuk saudaraku

Saudara...
Pagi ini sengaja kutulis sebuah kabar untukmu. agar aku tahu, kamu tahu dan kita juga tahu. ini bukanlah rahasia antara aku dan kamu saja, tapi juga kita semua.
saudara...
aku sebenarnya merasa sulit akan memulainya dari mana. tapi baiklah, bukan typeku untuk basa-basi, memang karena aku tak bisa untuk itu..
ketahuilah saudaraku....meski kita dilahirkan dari rahim yang berbeda-beda, tapi sebenarnya kita itu satu. kita itu tunggal. ketahuilah pula,hakikat "saudara" itu berarti "satu perut". artinya, kita dilahirkan dari perut yang sama. perut yang sama bukan beda-beda. memang, kita punya ibu masing-masing, namun ibu-ibu kita hanyalah sebagai perantaranya saja. ibu yang hakiki sebenarnya ialah satu, Siti Hawa. ingatlah itu...
peristiwa yang terjadi kemarin,telah mengingatkanku tentang pertemuan kita di pondok sementara kala itu. awal yang manis permulaan yang indah. entahlah, apakah masa-masa indah seperti itu akan terulang indah pada kehidupan kita mendatang. aku tak tahu, tapi aku berusaha terus mencari jawabnya. mencari dan menemukan sekuat tenagaku. tapi aku sangat yakin kita masih bisa, selama di antara kita mau "terima" dan "menerima".
pondok sementara saksi bisu yang selalu jujur pada kita semua. hanya diam dan sedikit tertawa mendengar kisah kita. ia tahu, betapa bahagianya kita waktu awal bersua. saat kau sambut aku dengan ucapan sebagai kerabat dan sahabat. kuimbangi senyum ikhlas dari nurani. memang itulah aku, mungkin juga kamu. malah sering pula kau bercerita padaku, tentang indahnya negeri ini, dari ujung kota A sampai kota B, yang kemudian hanya kujawab dengan senyuman dan anggukan. sebagai temanmu, tak banyak aku bercerita waktu itu, sedikit saja kusinggung keelokan kampungku, memang hanya itu yang aku kuasai dan ku punya. tak banyak bahan lain untuk dijadikan menu pembicaraan antara aku dan kau.
benih-benih saudara sudah ada di antara kita sejak saat itu. dan akhirnya, kita telah berikrar, meski berbeda-beda latar belakang sosial dan penghidupan, kita satu,"saudara". ikrar yang sakral, pondok semenatara lagi-lagi menjadi saksi kita bersama.
memang kuakui, dengan sadar bukanlah hal yang mudah untuk mempertahankan hubungan di antara kita. mungkin kau juga tahu, membuat itu lebih gampang daripada mempertahankan. apalagi setelah sekian lama kita bersama, kau mengetahui kelemahanku begitu pula sebaliknya, aku juga mengetahui kekuranganmu. sekali dua kali kita masih bisa menerima kekurangan itu, namun kalau sudah berkali-kali maka timbullah rasa curiga diantara kita yang kemudian tumbuh menjadi benih-benih fitnah. itu benar dan memang kenyataan yang harus kita hadapi bersama.
harusnya, kita bersama mau belajar dari filosof pohon. filosof yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. yang sering diucapkan oleh guru kita. bahwa semakin rindang dan rimbun pohon itu maka anginpun yang menerpa akan semakin kencang. kalau memang sedari kecil pohon itu mempunyai akar yang kuat, maka akar itu akan tumbuh menjadi kuat dan lebih kuat. angin besar dari segala penjuru bukanlah halangan dan rintangan tapi lawan yang harus menjadi kawan. tapi sebaliknya pula jika pohon itu tak berakar kuat, niscaya tak akan dapat bertahan dari terpaan angin. akibat kemudian Tumbang, lama kelamaan menjadi layu dan mati.
saudara.....
melalui surat ini, ku ingin kau membayangkan sebuah jembatan panjang yang sambung-menyambung. jembatan yang kokoh penghubung daratan yang satu dengan yang lain. yang memudahkan manusia untuk berpindah dari tempat yang satu ke temapt yang lain. dalam kesempatan ini pula izinkanlah aku sebagai penyangga atau tiang jembatan itu. yang menyangga dari bawah dengan keikhlasan. meski air, udara saban waktu mengikis tubuh yang mulai rapuh. tidak ada maksud dan tujuan lain, tidak ada kepentingan yang terselubung, juga tidak ingin dikatakan sebagai pencari muka. tujuannya cuma ingin agar semua menjadi tertawa, bergembira dan kembali seperti semula.
saudara.....
tak banyak yang dapat kutuliskan di sini, kuberharap semoga kita tidaktercerai berai, kita adalah satu. kita adalah yang kemarin. yang melepas lelah dengan canda dan mengubah penat dengan tawa. semoga saudara saudara sehati senantiasa di berikan kesehatan dan kemudahan.


salam ,



Selengkapnya...

Jumat, 12 November 2010

Sulitkah Menulis itu? Suparta Brata Say's......

Mas Hendro yang budiman,
Betul apa kata Pak Budi Darma. Menulis memang sulit,
bagi orang yang tidak punya budaya menulis. Sama,
menaiki sepeda engkol itu juga sulit, bagi orang yang
tidak pede belajar menaiki sepeda roda dua. Tetapi
naik sepeda menjadi gampang, bahkan menjadi juara,
bagi mereka yang sejak semula memang punya kebanggaan,
atau kekaguman terhadap sepeda. Dengan berlatih
terus-menerus, menjadi budaya naik sepeda, akhirnya
naik sepeda itu suatu kesenangan, tidak sulit lagi.
Begitu pula mengarang, menulis cerita, mengendarai
mobil, mengajar pelajar di sekolah. Kalau awalnya
sudah punya kekaguman, lalu ingin mencoba mengerjakan,
berlatih terus, tentu akhirnya menulis itu TIDAK SULIT
lagi. Kalau dilihat dari bakat, barangkali bakat saya
menulis hanya 25% dari kekuatan produktivitas saya.
Sebab dari pihak bapak atau ibu tidak ada yang gemar
menulis, dan dari anak-anak keturunan saya pun tidak
punya yang senang menulis (sastra). Kepala saya memang
pemikir IPA. Kakak saya tekniker rontgen pertama di
Indonesia. Anak-anak saya semua insinyir. Jadi
kesasteraan saya adalah pelarian (mungkin), yaitu
biasa membaca dan menulis karena TERPAKSA CARI NAFKAH.
Kalau orang sudah kagum mau naik sepeda, kemudian dia
harus mencari nafkah dengan mengayuh sepeda, tentu
akhirnya naik sepeda itu menjadi tidak sulit, apalagi
kalau menghasilkan (nafkah). Sayangnya saya tidak.
Sejak awal suka membaca dan menulis buku, tetapi
menulis buku tidak bisa saya jadikan nafkah utama.
Jasdi, kebiasaan mengarang saya adalah suatu pelarian
(terpaksa untuk cari nafkah), tapi kemudian menjadi
sport dan support dalam segala hal (ya ekonomi,
jasmani, rokhani, kesehatan dll). Kemudian setelah
tuwa begini mengarang sebagai amanah, ibadah dan
barkah.
Begitulah, Mas, dara saya mendorong diri untuk tetap
menulis. Menulis sekarang ini bagiku amanah Allah.
Tapi saya capai dari berlatih, berlatih, berlatih
terus.Coba perhatikan, novel saya Tak Ada Nasi Lain,
saya kerjakan tahun 1958, baru diterbitkan di Kompas
(cerita sambung) tahun 1990. Pengarang kan juga harus
sabar, telaten, karangannya ditolaki terus oleh
redaksi ya tetap saja berlatih, berlatih, berlatih,
akhirnya jadi pekerjaan atau sport dan support
kehidupan juga.
Sekian dulu, ya, Mas.
Selengkapnya...

Rabu, 03 November 2010

test

wujud bakti pada profesi, mencoba selangkah lebih maju. Selengkapnya...