Bekasi, 25 November 2010
masih teruntuk saudaraku
Saudara...
Pagi ini sengaja kutulis sebuah kabar untukmu. agar aku tahu, kamu tahu dan kita juga tahu. ini bukanlah rahasia antara aku dan kamu saja, tapi juga kita semua.
saudara...
aku sebenarnya merasa sulit akan memulainya dari mana. tapi baiklah, bukan typeku untuk basa-basi, memang karena aku tak bisa untuk itu..
ketahuilah saudaraku....meski kita dilahirkan dari rahim yang berbeda-beda, tapi sebenarnya kita itu satu. kita itu tunggal. ketahuilah pula,hakikat "saudara" itu berarti "satu perut". artinya, kita dilahirkan dari perut yang sama. perut yang sama bukan beda-beda. memang, kita punya ibu masing-masing, namun ibu-ibu kita hanyalah sebagai perantaranya saja. ibu yang hakiki sebenarnya ialah satu, Siti Hawa. ingatlah itu...
peristiwa yang terjadi kemarin,telah mengingatkanku tentang pertemuan kita di pondok sementara kala itu. awal yang manis permulaan yang indah. entahlah, apakah masa-masa indah seperti itu akan terulang indah pada kehidupan kita mendatang. aku tak tahu, tapi aku berusaha terus mencari jawabnya. mencari dan menemukan sekuat tenagaku. tapi aku sangat yakin kita masih bisa, selama di antara kita mau "terima" dan "menerima".
pondok sementara saksi bisu yang selalu jujur pada kita semua. hanya diam dan sedikit tertawa mendengar kisah kita. ia tahu, betapa bahagianya kita waktu awal bersua. saat kau sambut aku dengan ucapan sebagai kerabat dan sahabat. kuimbangi senyum ikhlas dari nurani. memang itulah aku, mungkin juga kamu. malah sering pula kau bercerita padaku, tentang indahnya negeri ini, dari ujung kota A sampai kota B, yang kemudian hanya kujawab dengan senyuman dan anggukan. sebagai temanmu, tak banyak aku bercerita waktu itu, sedikit saja kusinggung keelokan kampungku, memang hanya itu yang aku kuasai dan ku punya. tak banyak bahan lain untuk dijadikan menu pembicaraan antara aku dan kau.
benih-benih saudara sudah ada di antara kita sejak saat itu. dan akhirnya, kita telah berikrar, meski berbeda-beda latar belakang sosial dan penghidupan, kita satu,"saudara". ikrar yang sakral, pondok semenatara lagi-lagi menjadi saksi kita bersama.
memang kuakui, dengan sadar bukanlah hal yang mudah untuk mempertahankan hubungan di antara kita. mungkin kau juga tahu, membuat itu lebih gampang daripada mempertahankan. apalagi setelah sekian lama kita bersama, kau mengetahui kelemahanku begitu pula sebaliknya, aku juga mengetahui kekuranganmu. sekali dua kali kita masih bisa menerima kekurangan itu, namun kalau sudah berkali-kali maka timbullah rasa curiga diantara kita yang kemudian tumbuh menjadi benih-benih fitnah. itu benar dan memang kenyataan yang harus kita hadapi bersama.
harusnya, kita bersama mau belajar dari filosof pohon. filosof yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. yang sering diucapkan oleh guru kita. bahwa semakin rindang dan rimbun pohon itu maka anginpun yang menerpa akan semakin kencang. kalau memang sedari kecil pohon itu mempunyai akar yang kuat, maka akar itu akan tumbuh menjadi kuat dan lebih kuat. angin besar dari segala penjuru bukanlah halangan dan rintangan tapi lawan yang harus menjadi kawan. tapi sebaliknya pula jika pohon itu tak berakar kuat, niscaya tak akan dapat bertahan dari terpaan angin. akibat kemudian Tumbang, lama kelamaan menjadi layu dan mati.
saudara.....
melalui surat ini, ku ingin kau membayangkan sebuah jembatan panjang yang sambung-menyambung. jembatan yang kokoh penghubung daratan yang satu dengan yang lain. yang memudahkan manusia untuk berpindah dari tempat yang satu ke temapt yang lain. dalam kesempatan ini pula izinkanlah aku sebagai penyangga atau tiang jembatan itu. yang menyangga dari bawah dengan keikhlasan. meski air, udara saban waktu mengikis tubuh yang mulai rapuh. tidak ada maksud dan tujuan lain, tidak ada kepentingan yang terselubung, juga tidak ingin dikatakan sebagai pencari muka. tujuannya cuma ingin agar semua menjadi tertawa, bergembira dan kembali seperti semula.
saudara.....
tak banyak yang dapat kutuliskan di sini, kuberharap semoga kita tidaktercerai berai, kita adalah satu. kita adalah yang kemarin. yang melepas lelah dengan canda dan mengubah penat dengan tawa. semoga saudara saudara sehati senantiasa di berikan kesehatan dan kemudahan.
salam ,
Selengkapnya...
Rabu, 24 November 2010
Bukan surat cinta
Jumat, 12 November 2010
Sulitkah Menulis itu? Suparta Brata Say's......
Mas Hendro yang budiman,
Betul apa kata Pak Budi Darma. Menulis memang sulit,
bagi orang yang tidak punya budaya menulis. Sama,
menaiki sepeda engkol itu juga sulit, bagi orang yang
tidak pede belajar menaiki sepeda roda dua. Tetapi
naik sepeda menjadi gampang, bahkan menjadi juara,
bagi mereka yang sejak semula memang punya kebanggaan,
atau kekaguman terhadap sepeda. Dengan berlatih
terus-menerus, menjadi budaya naik sepeda, akhirnya
naik sepeda itu suatu kesenangan, tidak sulit lagi.
Begitu pula mengarang, menulis cerita, mengendarai
mobil, mengajar pelajar di sekolah. Kalau awalnya
sudah punya kekaguman, lalu ingin mencoba mengerjakan,
berlatih terus, tentu akhirnya menulis itu TIDAK SULIT
lagi. Kalau dilihat dari bakat, barangkali bakat saya
menulis hanya 25% dari kekuatan produktivitas saya.
Sebab dari pihak bapak atau ibu tidak ada yang gemar
menulis, dan dari anak-anak keturunan saya pun tidak
punya yang senang menulis (sastra). Kepala saya memang
pemikir IPA. Kakak saya tekniker rontgen pertama di
Indonesia. Anak-anak saya semua insinyir. Jadi
kesasteraan saya adalah pelarian (mungkin), yaitu
biasa membaca dan menulis karena TERPAKSA CARI NAFKAH.
Kalau orang sudah kagum mau naik sepeda, kemudian dia
harus mencari nafkah dengan mengayuh sepeda, tentu
akhirnya naik sepeda itu menjadi tidak sulit, apalagi
kalau menghasilkan (nafkah). Sayangnya saya tidak.
Sejak awal suka membaca dan menulis buku, tetapi
menulis buku tidak bisa saya jadikan nafkah utama.
Jasdi, kebiasaan mengarang saya adalah suatu pelarian
(terpaksa untuk cari nafkah), tapi kemudian menjadi
sport dan support dalam segala hal (ya ekonomi,
jasmani, rokhani, kesehatan dll). Kemudian setelah
tuwa begini mengarang sebagai amanah, ibadah dan
barkah.
Begitulah, Mas, dara saya mendorong diri untuk tetap
menulis. Menulis sekarang ini bagiku amanah Allah.
Tapi saya capai dari berlatih, berlatih, berlatih
terus.Coba perhatikan, novel saya Tak Ada Nasi Lain,
saya kerjakan tahun 1958, baru diterbitkan di Kompas
(cerita sambung) tahun 1990. Pengarang kan juga harus
sabar, telaten, karangannya ditolaki terus oleh
redaksi ya tetap saja berlatih, berlatih, berlatih,
akhirnya jadi pekerjaan atau sport dan support
kehidupan juga.
Sekian dulu, ya, Mas.
Selengkapnya...
Rabu, 03 November 2010
test
wujud bakti pada profesi, mencoba selangkah lebih maju. Selengkapnya...