Mas Hendro yang budiman,
Betul apa kata Pak Budi Darma. Menulis memang sulit,
bagi orang yang tidak punya budaya menulis. Sama,
menaiki sepeda engkol itu juga sulit, bagi orang yang
tidak pede belajar menaiki sepeda roda dua. Tetapi
naik sepeda menjadi gampang, bahkan menjadi juara,
bagi mereka yang sejak semula memang punya kebanggaan,
atau kekaguman terhadap sepeda. Dengan berlatih
terus-menerus, menjadi budaya naik sepeda, akhirnya
naik sepeda itu suatu kesenangan, tidak sulit lagi.
Begitu pula mengarang, menulis cerita, mengendarai
mobil, mengajar pelajar di sekolah. Kalau awalnya
sudah punya kekaguman, lalu ingin mencoba mengerjakan,
berlatih terus, tentu akhirnya menulis itu TIDAK SULIT
lagi. Kalau dilihat dari bakat, barangkali bakat saya
menulis hanya 25% dari kekuatan produktivitas saya.
Sebab dari pihak bapak atau ibu tidak ada yang gemar
menulis, dan dari anak-anak keturunan saya pun tidak
punya yang senang menulis (sastra). Kepala saya memang
pemikir IPA. Kakak saya tekniker rontgen pertama di
Indonesia. Anak-anak saya semua insinyir. Jadi
kesasteraan saya adalah pelarian (mungkin), yaitu
biasa membaca dan menulis karena TERPAKSA CARI NAFKAH.
Kalau orang sudah kagum mau naik sepeda, kemudian dia
harus mencari nafkah dengan mengayuh sepeda, tentu
akhirnya naik sepeda itu menjadi tidak sulit, apalagi
kalau menghasilkan (nafkah). Sayangnya saya tidak.
Sejak awal suka membaca dan menulis buku, tetapi
menulis buku tidak bisa saya jadikan nafkah utama.
Jasdi, kebiasaan mengarang saya adalah suatu pelarian
(terpaksa untuk cari nafkah), tapi kemudian menjadi
sport dan support dalam segala hal (ya ekonomi,
jasmani, rokhani, kesehatan dll). Kemudian setelah
tuwa begini mengarang sebagai amanah, ibadah dan
barkah.
Begitulah, Mas, dara saya mendorong diri untuk tetap
menulis. Menulis sekarang ini bagiku amanah Allah.
Tapi saya capai dari berlatih, berlatih, berlatih
terus.Coba perhatikan, novel saya Tak Ada Nasi Lain,
saya kerjakan tahun 1958, baru diterbitkan di Kompas
(cerita sambung) tahun 1990. Pengarang kan juga harus
sabar, telaten, karangannya ditolaki terus oleh
redaksi ya tetap saja berlatih, berlatih, berlatih,
akhirnya jadi pekerjaan atau sport dan support
kehidupan juga.
Sekian dulu, ya, Mas.
Jumat, 12 November 2010
Sulitkah Menulis itu? Suparta Brata Say's......
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
hahahahahahahahahahahahah :D
BalasHapusbudiman dari mana ?
dari kemarin. heeee...
BalasHapus